pada pucuk dedaun
tepat di atasnya
gemintang beralaskan langit kelam
menatap angin berhembus membelai wajahmu
pada pucuk dedaun
tepat di atasnya
gemintang beralaskan langit kelam
menatap angin berhembus membelai wajahmu
Bahagialah!
Karena padamu tersemat juntaian kehendak, juntaian kenikmatan
dia berputar terus dan terus..
Melingkar bagai roda yang bergerak untuk kembali
pada mulanya..
Engkau adalah juntaian keinginan yang ku simpan rapi
dalam hangat kerinduan pada puluhan tahun di muka
Engkau adalah juntaian harap yang tak akan lekang dan tiada bertepi
hampir tiada ujung!
Engkau adalah juntaian deru yang kau bawa pada sisi kelemahan
karena tak akan kupikirkan
tak akan hirau
Engkau adalah gemuruh itu sendiri yang tiba tanpa ku pesan dan pergi tanpa berpamitan!
Engkau menjadi berhala, menjadi segala seru dan sesembahan bagiku yang memujamu siang malam
Bahagialah
Karena Engkau lah deru yang memintaku untuk gemakan sahutku dan meneriakkannya hingga abad habis berbilang
Untukmu tiada akhir!
Padamu yg terpaku menatap kabut yang mengasingkan diri mengungkap fajar
Riuh pada hamparan tanda
Namun hanya mampu meniti gamang saat sepasang jemari saling mencari
Kita hendak menurut
Pada letak lonceng hati yang begitu jauh
Atau meraba tuas tempat tangkai sang waktu mula mengait
Atau pada pandangan yang jeli menangkap makna yang tersimpan
Atau merapikan saja letak rasa yang tersibak tiba-tiba
Engkau adalah penunggang mimpi
Menari di antara desiran dingin saat ingin dekap begitu semerbak
Atau kicau pagi burung yang lapar mengais tanah coklat; basah!
Semua tiada akan henti; tiada akan menepi jua
Seperti ranting kerontang yang menolak untuk terjun ke tanah
Atau mawar layu yang enggan gugur
Berbahagialah
Karena kasmaran adalah anugerah maha tinggi
Sedang diri tiada mampu untuk menjajaki
Hingga dalam doa kita bertemu dengan hanya dipersaksikan keabadiaan
Engkau menjulurkan tinggi di puncak-puncak langit
mendorong mentari, mendorong gemintang
menelurkannya pada hasrat yang semilir aja
Guratan nan kian elok
Engkau dan wajah-Mu
bahkan sembilu pun tiada akan terasa
angan lemah binasa jua
debur ragu menghimpun lara
dan melafalkan ayat akan nama-Mu pada birama kesekian
Engkau menutur dan Kau menjawab!
bagai monolog malam yang coba dipahami rama-rama
seluruhnya hanya untuk sebuah angkuh yang coba Engkau hempaskan di atas lantai
berserakan!!
dan menghentikan waktu yang berlomba laju peluru
kisah yang gema pada lorong keabadian; menghempas kian kemari
Ah...Bidadari-ku
sejumput saja hendak ku seka manis-Mu dengan lidahku yang kasar dan kerontang dahaga rindu
atau hendak memipihkannya untuk dapat ku seruput dalam indahnya birahi di alas tidurku
atau setetes jua tiada apa hendak ku reguk bersama bayang-Mu menari di dalam angan-angan yang begitu seronok!!
dan ku sapu semua pedih
pada hampiran nafas
saat Engkau merasuki tubuhku dengan gerusan tajam
dan lolongan menyayat yang ku nyanyikan untuk memapah indah-Mu
Engkau
benar diri-Mu Bidadari-ku...
Ah...Bidadari-ku
usahkah ku gadaikan harga diri
hamba resi yang menggapai aksara asmara
dan tiada akan ku sepah ia andai seluruhnya hanya khianat belaka
pada punca rembulan pucat
ku iringi sajak yang melukis indah cinta!
enggankah Engkau?
kepak cinta menggagah angkasa!
dan menurunkan buai pada lema rasa tiada berbulir..
dalam diam kabut hendak bertanya tuan itu kepada sahaya
Lukakah ia?
atau jemari tertaut itu bukan inginmu
retak!
dan sembilu itu benar mengusung tanya
jumawakah Dia?
Aku akan selalu bertanya..
Kita yang terbaring berhadapan
dengan tatapan rindu
asmara yang menggelora
dekapmu hangat yang menggebu
saat genggaman kita menyatu
senada pagutan bibir yang saling memburu
Cinta...
padamu jua harap itu terhampar nyata
Sedingin malam yang hujan tiada henti
Aku mengenang, rindu yang selesai saat sore telah berlalu
dan mendekaplah gelap gulita ini
Semua sedingin malam yang hujan tiada henti, menghujamkan rasa pada ngilu yang terpapar kini
Sungguh, namamu terngiang dalam pusaran harap