Padamu yg terpaku menatap kabut yang mengasingkan diri mengungkap fajar
Riuh pada hamparan tanda
Namun hanya mampu meniti gamang saat sepasang jemari saling mencari
Kita hendak menurut
Pada letak lonceng hati yang begitu jauh
Atau meraba tuas tempat tangkai sang waktu mula mengait
Atau pada pandangan yang jeli menangkap makna yang tersimpan
Atau merapikan saja letak rasa yang tersibak tiba-tiba
Engkau adalah penunggang mimpi
Menari di antara desiran dingin saat ingin dekap begitu semerbak
Atau kicau pagi burung yang lapar mengais tanah coklat; basah!
Semua tiada akan henti; tiada akan menepi jua
Seperti ranting kerontang yang menolak untuk terjun ke tanah
Atau mawar layu yang enggan gugur
Berbahagialah
Karena kasmaran adalah anugerah maha tinggi
Sedang diri tiada mampu untuk menjajaki
Hingga dalam doa kita bertemu dengan hanya dipersaksikan keabadiaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar