Jumat, 16 Agustus 2013

Dian Mungil di Altar Brahmana

Dirimu
mendekat dengan langkah kucing yang mengendap halus
mendengus manja dan berusaha meraih irama nan lupa berbunyi setelah sekian hari alpa

Apakah benar?
atau hanya lelucon bagi gelintiran harap?
Engkau tiada akan mendekap!

Aku akan mengujimu dan membuat ragu cinta itu menjadi abadi dan tiada akan sanggup kau lupa

Jum'at 16 Aug 2013
21.27
Savage Love ; DY

Rabu, 07 Agustus 2013

Keindahan Syawal 1434 H

Setelah sebulan berpuasa dengan segala macam polemik pribadi dan sosial, tibalah waktunya bagi kaum muslimin di seluruh bumi untuk menyambut kedatangan syawal.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, ritual Ramadhan yang ditutup dengan 'idl Fitri pada 1 dan 2 Syawal pastinya disambut dengan suka-cita. Terlepas permasalahan ada pribadi yang secara penuh ataupun sebahagian melaksanakan puasa Ramadhan, 1 Syawal berikut perayaan 'idl Fitri tetap menjadi momen yang ditunggu oleh banyak kaum muslim.

Menyoal sikap konsumerisme mungkin sudah sangat biasa. Namun jika kita mau mengkritisi bagaimana saling "mengkafirkan" antar sekte Islam juga terkesan berat dan sulit dirunut ujung pangkalnya. Begitupun perhatian akhirnya tertuju pada tragedi pemboman vihara Ekayana Grha.

Ummat buddha selama ini sangat jarang bersentuhan dengan teror bom. Seperti banyak pemberitaan media yang melakukan penggiringan opini pada kelompok terorisme muslim yang merujuk pada tragedi penelantaran muslim Rohingya oleh pemerintah Burma. Apapun itu, terlepas tragedi penelantaran muslim Rohingya telah juga membuat berang komunitas muslim Asia Tenggara (bahkan mungkin dunia), adalah miris (jika benar aksi tersebut dilakukan oleh bahagian fundamentalis muslim) aksi tersebut dilakukan di bulan Ramadhan.

Berteman dengan beberapa pegiat atheisme dan agnotisme Indonesia. Kadangkala menjadi pedih membaca kritik mereka yang tertuju langsung pada agama Islam. Pembuktian atas aksi teror tersebut juga masih belum pada titik kesimpulan, namun media lokal bahkan internasional langsung melakukan penggiringan opini pada kelompok terorisme Islam dan membuat para pegiat tersebut semakin gencar melakukan aksi "protes" di akun jejaring sosial masing-masing bahkan menjadi sisipan dari ucapan selamat 'idl Fitri 1434 H tahun ini.

Seperti pada postingan sebelumnya mengenai bahaya mass-media dalam menyebarkan berita kebencian. Ada sedikit sentimen bahwa memang telah terjadi konspirasi dan penggiringan opini ke arah tersebut. Sebagai orang awam yang berusaha mencerna, bahkan para penyelidik masih-pun melakukan proses investigasi dan olah TKP atas aksi pemboman tersebut dan sampai saat ini juga belum ada pihak yang secara independen menyatakan diri bertanggung jawab atas aksi tersebut. Alangkah menggelikan ketika publik secara beramai-ramai tergiring pada satu muara yang sama yang sepertinya mendiskreditkan Islam.

Yang lebih menggelikan lagi adalah postingan beberapa rekan yang dengan lantang menyatakan bahwa aksi terkait berhubungan dengan krisis Suriah antara pendukung Assad dan pasukan pemberontak bahkan desas-desus turut campurnya pasukan Taliban. Rekan tersebut yang memeluk sekte Islam-Syiah begitu mendiskreditkan sekte Islam-Wahabisme dan Salafisme dan dengan percaya diri menyalahkan kehadiran faham "Islam Transnasional" tersebut (termasuk organisasi FPI, PKS, HTI, Ikhwanul Muslimin dan sejenisnya) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aksi pemboman vihara Ekayana Grha.

Terlepas benar-tidaknya segala kesimpang-siuran mass media tersebut. Hal yang perlu dikutip adalah perayaan 'idl Fitri 1 Syawal 1434 H kali ini sepertinya semakin menjauhkan nilai moral dan spiritual yang harusnya didapat oleh setiap alumni Ramadhan 1434 H. Telah lupakah kita bahwa shaum Ramadhan pada dasarnya diwajibkan atas seluruh kaum muslimin untuk menjadikan mereka "yang beriman" untuk dapat meningkat menjadi "bertaqwa"?

Sungguh sedih ketika Liga Arab dan negara-negara OKI kemudian menyerukan gencatan senjata di Suriah sedikitnya selama perayaan 'idl Mubarak yang senyatanya "terberkati". Baik aksi bom vihara Ekayana, konflik Suriah, Mesir dan segala konflik di dunia muslim lainnya hanya akan mengantarkan sebuah stigma yang semakin melekat bahwa kaum muslimin begitu cinta akan pertumpahan darah dan adalah omong kosong jika dikatakan Islam hadir sebagai rahmatan lil 'alamin.

Saya pernah berkomentar pada postingan seorang rekan yang berpikiran serupa bahwa; kita (kaum muslimin) telah tanpa sengaja melakukan distorsi atas wajah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang menjadi wajah yang beringas dan kejam. Lebih jauh saya katakan dengan menukil sebuah kutipan yang saya baca; "aku melihat wajah Allah di atas tumpukan mayat manusia dan genangan darah yang membasahi bumi".

Setiap agama, apapun itu termasuk Islam bukanlah sebuah ajaran yang mendorong dan memotivasi ummatnya untuk saling tuding dan menumpahkan darah sesama manusia. Setiap agama punya slogan kemaslahatan, termasuk Islam sebagai agama Rahmat. Di perayaan 'idl Fitri ini, mari kita sesama muslim renungkan dengan melepas ego masing-masing sekte kita, apa kita telah tanpa sengaja mengambil wilayah Allah sebagai satu-satunya Dzat yang pantas Mengadili se-adil-adilnya dan Berkuasa menetapkan salah dan benar mutlak atas seluruh alam?

Selamat idl Fitri 1434 H. Semoga dengan takbir yang kita kumandangkan kepada-Nya, Allah ridha cahaya-Nya menerangi kita menjadi jiwa yang muthma'innah.

Senin, 05 Agustus 2013

Hati-hati pemberitaan media

Judul : Gelombang Kematian - Media Pengobar Genosida Rwanda
Penerjemah : Esti Sumarah & Kitu Ayana
Jumlah Halaman : 295 halaman
Penerbit : KATAKITA untuk RADIO 68H Jakarta
Tahun : 2004

Awal melihat cover-nya nan provokatif dengan judul yang tidak kalah memancing ketertarikan, menyisakan sebuah tanya; bagaimana sebuah media massa kemudian mampu melakukan genosida? Rwanda pada kurun waktu 1990 hingga 94 adalah daerah yang penuh dengan konflik internal dan perang saudara. Pembantaian etnis di negara miskin ini menyisakan sebuah sejarah kelam bagaimana unsur media massa ternyata mengambil suatu peran vital atas genosida yang merengut nyawa 333 orang dalam tiap jamnya. Pembantaian etnis ini terjadi antara mayoritas suku Hutu yang "dihasut" sedemikian rupa untuk membenci minoritas suku Tutsi.

Adalah Radio Television de Milles Collines (RTLM) yang memainkan peranan menyebarkan berita kebencian, mulai dari propaganda halus anti-Tutsi yang tidak spesifik hingga mulai dari tanggal 5 April 1994 disiarkannya pengorganisasian besar-besaran genosida melalui gelombang radio dan berkembang hingga 100 hari ke depan. Tidak kurang dari 800.000 nyawa manusia yang tewas akibat dari genosida ini yang tercatat sejak 6 April hingga 18 Juli 1994.

RTLM bukanlah radio pemerintah. Sebagai sebuah radio swasta, ada kesan bahwa radio ini sengaja dibentuk untuk mengobarkan histeria suku Hutu dan membangkitkan sentimen anti-Tutsi dengan selipan cerita bohong dalam siaran-siaran mereka. Banyak kesaksian yang dipaparkan oleh buku ini yang menyatakan bahwa para pelaku turut serta dalam tindakan pembantaian etnik karena terpengaruh seruan RTLM. Namun tidak seperti Radio Rwanda (radio resmi milik pemerintah Rwanda), yang walaupun menyampaikan pesan yang sama, RTLM menyampaikan dengan gaya presentase ala anak muda yang ceria, santai, rileks bahkan kadang slengekan.

Sebuah semiotika sengaja dibangun yang secara persuasif namun efektif mengena para pendengarnya untuk secara terorganisir melakukan genosida berdasar profokasi gelombang radio ini. RTLM bukanlah contoh pertama dan pastinya bukan pula yang terakhir. Kasus yang paling terkenal adalah ketika seorang penyiar dan propagandis NAZI dinyatakan bersalah dalam pengadilan Nuremberg terkait propaganda kebencian melalui media massa. Contoh lainnya tapi sulit untuk dibuktikan adalah "radio kebencian" di Zimbabwe. Zimbabwe Broadcasting Corporation disinyalir memiliki impact langsung atas pengorganisasian milisi pro-pemerintah.

Di Indonesia sendiri, era PKI adalah salah satu yang secara terang-terangan menyebarkan propaganda halus, baik dari sisi PKI sendiri maupun para pihak lainnya. Keterangan dari beberapa saksi yang masih hidup dan bermukim di Ibukota Jakarta pada waktu itu, pemberitaan menjadi simpang siur dan masyarakat dikeruhkan (baca-dibingungkan) dengan riuhnya pemberitaan hingga sulit untuk mencerna pemberitaan mana yang benar bahkan hingga lewat 1 Oktober. Konflik ambon juga disinyalir dikacaukan oleh pemberitaan media yang seperti sengaja memunculkan kekerasan SARA antar suku dan ummat beragama.

Apapun itu, media massa utamanya memainkan peranan penting dalam melakukan kooptasi informasi dan pada bagian tertentu sering juga melakukan penyitiran informasi agar terdengar dan terlihat lebih daripada kenyataan sebenarnya.

Minggu, 04 Agustus 2013

Renungan diri 11

Orang yang selalu tertawa riang lebih membutuhkan bantuan orang lain untuk sekedar tetap tersenyum

(Muhammad R. H. Pitopang)

Kamis, 01 Agustus 2013

Rembulan di atas padang

Ku ketuk rembulan yang membubung di atas padang
Layu lirik hati tiada akan merona asa
Sungguh...pada perih semua terlena lalu
hingga putik tiada jumawa!

Engkau
debur renta yang bersahutan masih

Apa engkau akan tertatih menjemput lembaran kisah ini?

di hasta nan memberi jarak
pada depa nan menyeruak antara

Apa engkau akan berkata pada sendu matari kita?

Ku ketuk rembulan nan bumbung di atas padang
semilir jawab
telah hanyut di bawa senja yang mengerang!

August, 2 2013
01.52
© MUHAMMAD R.H. PITOPANG

Renungan diri 10

Berasumsilah kita akan gagal ketika kita sedang berusaha, dengan begitu kita akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak akan gagal. Karena ketika kita berasumsi bahwa kita akan berhasil, kita tidak akan pernah siap menerima kegagalan dari apa yang telah kita upayakan jikapun usaha kita ternyata telah gagal.

© Muhammad R. H. Pitopang

Renungan diri 9

Ketika ditinggal kekasihmu
Jangan pernah berpikir dirimu dicampakkan seperti sampah, tapi berpikirlah bahwa dia telah menyia-nyiakan segepok emas

Karena ketika kita berpikir kita dibuang layaknya sampah, kita akan bersikap rendah seperti sampah sesungguhnya!

© Muhammad R. H. Pitopang

Renungan diri 8

Sesulit apapun masalah yang dihadapi,seorang wanita terhormat akan menutup rapat bibirnya dengan sabar namun terus berpikir dengan kepala dingin mencari jalan keluar; bukan mencari-cari kesalahan dan kambing hitam

Seorang wanita terhormat adalah perempuan dengan akal taktis seorang pria namun memiliki keanggunan serta kontrol emosi seorang ratu

(Muhammad R. H. Pitopang)