Judul : Gelombang Kematian - Media Pengobar Genosida Rwanda
Penerjemah : Esti Sumarah & Kitu Ayana
Jumlah Halaman : 295 halaman
Penerbit : KATAKITA untuk RADIO 68H Jakarta
Tahun : 2004
Awal melihat cover-nya nan provokatif dengan judul yang tidak kalah memancing ketertarikan, menyisakan sebuah tanya; bagaimana sebuah media massa kemudian mampu melakukan genosida? Rwanda pada kurun waktu 1990 hingga 94 adalah daerah yang penuh dengan konflik internal dan perang saudara. Pembantaian etnis di negara miskin ini menyisakan sebuah sejarah kelam bagaimana unsur media massa ternyata mengambil suatu peran vital atas genosida yang merengut nyawa 333 orang dalam tiap jamnya. Pembantaian etnis ini terjadi antara mayoritas suku Hutu yang "dihasut" sedemikian rupa untuk membenci minoritas suku Tutsi.
Adalah Radio Television de Milles Collines (RTLM) yang memainkan peranan menyebarkan berita kebencian, mulai dari propaganda halus anti-Tutsi yang tidak spesifik hingga mulai dari tanggal 5 April 1994 disiarkannya pengorganisasian besar-besaran genosida melalui gelombang radio dan berkembang hingga 100 hari ke depan. Tidak kurang dari 800.000 nyawa manusia yang tewas akibat dari genosida ini yang tercatat sejak 6 April hingga 18 Juli 1994.
RTLM bukanlah radio pemerintah. Sebagai sebuah radio swasta, ada kesan bahwa radio ini sengaja dibentuk untuk mengobarkan histeria suku Hutu dan membangkitkan sentimen anti-Tutsi dengan selipan cerita bohong dalam siaran-siaran mereka. Banyak kesaksian yang dipaparkan oleh buku ini yang menyatakan bahwa para pelaku turut serta dalam tindakan pembantaian etnik karena terpengaruh seruan RTLM. Namun tidak seperti Radio Rwanda (radio resmi milik pemerintah Rwanda), yang walaupun menyampaikan pesan yang sama, RTLM menyampaikan dengan gaya presentase ala anak muda yang ceria, santai, rileks bahkan kadang slengekan.
Sebuah semiotika sengaja dibangun yang secara persuasif namun efektif mengena para pendengarnya untuk secara terorganisir melakukan genosida berdasar profokasi gelombang radio ini. RTLM bukanlah contoh pertama dan pastinya bukan pula yang terakhir. Kasus yang paling terkenal adalah ketika seorang penyiar dan propagandis NAZI dinyatakan bersalah dalam pengadilan Nuremberg terkait propaganda kebencian melalui media massa. Contoh lainnya tapi sulit untuk dibuktikan adalah "radio kebencian" di Zimbabwe. Zimbabwe Broadcasting Corporation disinyalir memiliki impact langsung atas pengorganisasian milisi pro-pemerintah.
Di Indonesia sendiri, era PKI adalah salah satu yang secara terang-terangan menyebarkan propaganda halus, baik dari sisi PKI sendiri maupun para pihak lainnya. Keterangan dari beberapa saksi yang masih hidup dan bermukim di Ibukota Jakarta pada waktu itu, pemberitaan menjadi simpang siur dan masyarakat dikeruhkan (baca-dibingungkan) dengan riuhnya pemberitaan hingga sulit untuk mencerna pemberitaan mana yang benar bahkan hingga lewat 1 Oktober. Konflik ambon juga disinyalir dikacaukan oleh pemberitaan media yang seperti sengaja memunculkan kekerasan SARA antar suku dan ummat beragama.
Apapun itu, media massa utamanya memainkan peranan penting dalam melakukan kooptasi informasi dan pada bagian tertentu sering juga melakukan penyitiran informasi agar terdengar dan terlihat lebih daripada kenyataan sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar