Minggu, 23 Februari 2014

Bidadari Hujan (Sebuah diam di antara kabut)

enggankah Engkau?
kepak cinta menggagah angkasa!
dan menurunkan buai pada lema rasa tiada berbulir..

dalam diam kabut hendak bertanya tuan itu kepada sahaya
Lukakah ia?
atau jemari tertaut itu bukan inginmu
retak!
dan sembilu itu benar mengusung tanya

jumawakah Dia?

Aku akan selalu bertanya..

Kamis, 19 Desember 2013

Kita

Kita yang terbaring berhadapan
dengan tatapan rindu
asmara yang menggelora

dekapmu hangat yang menggebu
saat genggaman kita menyatu
senada pagutan bibir yang saling memburu

Cinta...
padamu jua harap itu terhampar nyata

Sabtu, 05 Oktober 2013

Sedingin Malam 1

Sedingin malam yang hujan tiada henti

Aku mengenang, rindu yang selesai saat sore telah berlalu
dan mendekaplah gelap gulita ini

Semua sedingin malam yang hujan tiada henti, menghujamkan rasa pada ngilu yang terpapar kini
Sungguh, namamu terngiang dalam pusaran harap

Kamis, 05 September 2013

Menuai Harap

Pada arak-arakan awan, ku selip sebuah kata menuju seberang impian
mengarung hingga titik ketiadaan nun tak dapat dijamah jemari
berharap lekang dan lapuk tiada akan pernah terjadi

Dan pada parasmu, sungguh
ada janji semat saat senja menguningkan cakrawala
atau kita menunggu semua dalam genggaman hati berbeda
sungguh hidup adalah sisi yang tak dapat dimengerti

dan apakah kau menyesali?
Keputusan ini sungguh bukan kebaikan
jiwa bajik dentum hati merona takdir, mengoyak harap
menuai jemari yang menadah doa duka

Itu adalah sebuah tiupan sangkakala
saat senyum terakhirmu melayang pergi bersama kabut tipis yang secuil demi secuil sirna!

September 5th 2013
23.10

Rabu, 04 September 2013

Angan-angan pada mimpi kosong


Jawablah
dengan kalimat paling sederhana yang bisa kau susun
dengan ungkapan termudah yang bisa kau ucap
seketika

pada harap nan terbakar dian meninggi
pada penat menanti dirimu yang tertuju
pada iba nan terungkap saat pilu tertahan dan tiada termaafkan

Ia hanya angan-angan sepi pada mimpi kosong

sungguh...

Mahkota apa hendak ku pakai jua?
jumawa bagaimana masih menjadi noktah bagi tulusnya kata?

Hanya senyap yang ku genggam saat semilir duka bahkan tak mampu berbunyi

Malam ku nanti saat gemintang menghindar
Siang ku raba saat matari menutup wajah dengan jenuh

Apa harapku lagi?
Ungkapkan apa yang ku dapat kala ku berangan-angan pada mimpi yang kosong?

Sepahat kata dan engkau tiada akan mengingatnya

Cinta!

September, 5 2013
00.11

Jumat, 16 Agustus 2013

Dian Mungil di Altar Brahmana

Dirimu
mendekat dengan langkah kucing yang mengendap halus
mendengus manja dan berusaha meraih irama nan lupa berbunyi setelah sekian hari alpa

Apakah benar?
atau hanya lelucon bagi gelintiran harap?
Engkau tiada akan mendekap!

Aku akan mengujimu dan membuat ragu cinta itu menjadi abadi dan tiada akan sanggup kau lupa

Jum'at 16 Aug 2013
21.27
Savage Love ; DY

Rabu, 07 Agustus 2013

Keindahan Syawal 1434 H

Setelah sebulan berpuasa dengan segala macam polemik pribadi dan sosial, tibalah waktunya bagi kaum muslimin di seluruh bumi untuk menyambut kedatangan syawal.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, ritual Ramadhan yang ditutup dengan 'idl Fitri pada 1 dan 2 Syawal pastinya disambut dengan suka-cita. Terlepas permasalahan ada pribadi yang secara penuh ataupun sebahagian melaksanakan puasa Ramadhan, 1 Syawal berikut perayaan 'idl Fitri tetap menjadi momen yang ditunggu oleh banyak kaum muslim.

Menyoal sikap konsumerisme mungkin sudah sangat biasa. Namun jika kita mau mengkritisi bagaimana saling "mengkafirkan" antar sekte Islam juga terkesan berat dan sulit dirunut ujung pangkalnya. Begitupun perhatian akhirnya tertuju pada tragedi pemboman vihara Ekayana Grha.

Ummat buddha selama ini sangat jarang bersentuhan dengan teror bom. Seperti banyak pemberitaan media yang melakukan penggiringan opini pada kelompok terorisme muslim yang merujuk pada tragedi penelantaran muslim Rohingya oleh pemerintah Burma. Apapun itu, terlepas tragedi penelantaran muslim Rohingya telah juga membuat berang komunitas muslim Asia Tenggara (bahkan mungkin dunia), adalah miris (jika benar aksi tersebut dilakukan oleh bahagian fundamentalis muslim) aksi tersebut dilakukan di bulan Ramadhan.

Berteman dengan beberapa pegiat atheisme dan agnotisme Indonesia. Kadangkala menjadi pedih membaca kritik mereka yang tertuju langsung pada agama Islam. Pembuktian atas aksi teror tersebut juga masih belum pada titik kesimpulan, namun media lokal bahkan internasional langsung melakukan penggiringan opini pada kelompok terorisme Islam dan membuat para pegiat tersebut semakin gencar melakukan aksi "protes" di akun jejaring sosial masing-masing bahkan menjadi sisipan dari ucapan selamat 'idl Fitri 1434 H tahun ini.

Seperti pada postingan sebelumnya mengenai bahaya mass-media dalam menyebarkan berita kebencian. Ada sedikit sentimen bahwa memang telah terjadi konspirasi dan penggiringan opini ke arah tersebut. Sebagai orang awam yang berusaha mencerna, bahkan para penyelidik masih-pun melakukan proses investigasi dan olah TKP atas aksi pemboman tersebut dan sampai saat ini juga belum ada pihak yang secara independen menyatakan diri bertanggung jawab atas aksi tersebut. Alangkah menggelikan ketika publik secara beramai-ramai tergiring pada satu muara yang sama yang sepertinya mendiskreditkan Islam.

Yang lebih menggelikan lagi adalah postingan beberapa rekan yang dengan lantang menyatakan bahwa aksi terkait berhubungan dengan krisis Suriah antara pendukung Assad dan pasukan pemberontak bahkan desas-desus turut campurnya pasukan Taliban. Rekan tersebut yang memeluk sekte Islam-Syiah begitu mendiskreditkan sekte Islam-Wahabisme dan Salafisme dan dengan percaya diri menyalahkan kehadiran faham "Islam Transnasional" tersebut (termasuk organisasi FPI, PKS, HTI, Ikhwanul Muslimin dan sejenisnya) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aksi pemboman vihara Ekayana Grha.

Terlepas benar-tidaknya segala kesimpang-siuran mass media tersebut. Hal yang perlu dikutip adalah perayaan 'idl Fitri 1 Syawal 1434 H kali ini sepertinya semakin menjauhkan nilai moral dan spiritual yang harusnya didapat oleh setiap alumni Ramadhan 1434 H. Telah lupakah kita bahwa shaum Ramadhan pada dasarnya diwajibkan atas seluruh kaum muslimin untuk menjadikan mereka "yang beriman" untuk dapat meningkat menjadi "bertaqwa"?

Sungguh sedih ketika Liga Arab dan negara-negara OKI kemudian menyerukan gencatan senjata di Suriah sedikitnya selama perayaan 'idl Mubarak yang senyatanya "terberkati". Baik aksi bom vihara Ekayana, konflik Suriah, Mesir dan segala konflik di dunia muslim lainnya hanya akan mengantarkan sebuah stigma yang semakin melekat bahwa kaum muslimin begitu cinta akan pertumpahan darah dan adalah omong kosong jika dikatakan Islam hadir sebagai rahmatan lil 'alamin.

Saya pernah berkomentar pada postingan seorang rekan yang berpikiran serupa bahwa; kita (kaum muslimin) telah tanpa sengaja melakukan distorsi atas wajah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang menjadi wajah yang beringas dan kejam. Lebih jauh saya katakan dengan menukil sebuah kutipan yang saya baca; "aku melihat wajah Allah di atas tumpukan mayat manusia dan genangan darah yang membasahi bumi".

Setiap agama, apapun itu termasuk Islam bukanlah sebuah ajaran yang mendorong dan memotivasi ummatnya untuk saling tuding dan menumpahkan darah sesama manusia. Setiap agama punya slogan kemaslahatan, termasuk Islam sebagai agama Rahmat. Di perayaan 'idl Fitri ini, mari kita sesama muslim renungkan dengan melepas ego masing-masing sekte kita, apa kita telah tanpa sengaja mengambil wilayah Allah sebagai satu-satunya Dzat yang pantas Mengadili se-adil-adilnya dan Berkuasa menetapkan salah dan benar mutlak atas seluruh alam?

Selamat idl Fitri 1434 H. Semoga dengan takbir yang kita kumandangkan kepada-Nya, Allah ridha cahaya-Nya menerangi kita menjadi jiwa yang muthma'innah.