Kamis, 19 Desember 2013

Kita

Kita yang terbaring berhadapan
dengan tatapan rindu
asmara yang menggelora

dekapmu hangat yang menggebu
saat genggaman kita menyatu
senada pagutan bibir yang saling memburu

Cinta...
padamu jua harap itu terhampar nyata

Sabtu, 05 Oktober 2013

Sedingin Malam 1

Sedingin malam yang hujan tiada henti

Aku mengenang, rindu yang selesai saat sore telah berlalu
dan mendekaplah gelap gulita ini

Semua sedingin malam yang hujan tiada henti, menghujamkan rasa pada ngilu yang terpapar kini
Sungguh, namamu terngiang dalam pusaran harap

Kamis, 05 September 2013

Menuai Harap

Pada arak-arakan awan, ku selip sebuah kata menuju seberang impian
mengarung hingga titik ketiadaan nun tak dapat dijamah jemari
berharap lekang dan lapuk tiada akan pernah terjadi

Dan pada parasmu, sungguh
ada janji semat saat senja menguningkan cakrawala
atau kita menunggu semua dalam genggaman hati berbeda
sungguh hidup adalah sisi yang tak dapat dimengerti

dan apakah kau menyesali?
Keputusan ini sungguh bukan kebaikan
jiwa bajik dentum hati merona takdir, mengoyak harap
menuai jemari yang menadah doa duka

Itu adalah sebuah tiupan sangkakala
saat senyum terakhirmu melayang pergi bersama kabut tipis yang secuil demi secuil sirna!

September 5th 2013
23.10

Rabu, 04 September 2013

Angan-angan pada mimpi kosong


Jawablah
dengan kalimat paling sederhana yang bisa kau susun
dengan ungkapan termudah yang bisa kau ucap
seketika

pada harap nan terbakar dian meninggi
pada penat menanti dirimu yang tertuju
pada iba nan terungkap saat pilu tertahan dan tiada termaafkan

Ia hanya angan-angan sepi pada mimpi kosong

sungguh...

Mahkota apa hendak ku pakai jua?
jumawa bagaimana masih menjadi noktah bagi tulusnya kata?

Hanya senyap yang ku genggam saat semilir duka bahkan tak mampu berbunyi

Malam ku nanti saat gemintang menghindar
Siang ku raba saat matari menutup wajah dengan jenuh

Apa harapku lagi?
Ungkapkan apa yang ku dapat kala ku berangan-angan pada mimpi yang kosong?

Sepahat kata dan engkau tiada akan mengingatnya

Cinta!

September, 5 2013
00.11

Jumat, 16 Agustus 2013

Dian Mungil di Altar Brahmana

Dirimu
mendekat dengan langkah kucing yang mengendap halus
mendengus manja dan berusaha meraih irama nan lupa berbunyi setelah sekian hari alpa

Apakah benar?
atau hanya lelucon bagi gelintiran harap?
Engkau tiada akan mendekap!

Aku akan mengujimu dan membuat ragu cinta itu menjadi abadi dan tiada akan sanggup kau lupa

Jum'at 16 Aug 2013
21.27
Savage Love ; DY

Rabu, 07 Agustus 2013

Keindahan Syawal 1434 H

Setelah sebulan berpuasa dengan segala macam polemik pribadi dan sosial, tibalah waktunya bagi kaum muslimin di seluruh bumi untuk menyambut kedatangan syawal.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, ritual Ramadhan yang ditutup dengan 'idl Fitri pada 1 dan 2 Syawal pastinya disambut dengan suka-cita. Terlepas permasalahan ada pribadi yang secara penuh ataupun sebahagian melaksanakan puasa Ramadhan, 1 Syawal berikut perayaan 'idl Fitri tetap menjadi momen yang ditunggu oleh banyak kaum muslim.

Menyoal sikap konsumerisme mungkin sudah sangat biasa. Namun jika kita mau mengkritisi bagaimana saling "mengkafirkan" antar sekte Islam juga terkesan berat dan sulit dirunut ujung pangkalnya. Begitupun perhatian akhirnya tertuju pada tragedi pemboman vihara Ekayana Grha.

Ummat buddha selama ini sangat jarang bersentuhan dengan teror bom. Seperti banyak pemberitaan media yang melakukan penggiringan opini pada kelompok terorisme muslim yang merujuk pada tragedi penelantaran muslim Rohingya oleh pemerintah Burma. Apapun itu, terlepas tragedi penelantaran muslim Rohingya telah juga membuat berang komunitas muslim Asia Tenggara (bahkan mungkin dunia), adalah miris (jika benar aksi tersebut dilakukan oleh bahagian fundamentalis muslim) aksi tersebut dilakukan di bulan Ramadhan.

Berteman dengan beberapa pegiat atheisme dan agnotisme Indonesia. Kadangkala menjadi pedih membaca kritik mereka yang tertuju langsung pada agama Islam. Pembuktian atas aksi teror tersebut juga masih belum pada titik kesimpulan, namun media lokal bahkan internasional langsung melakukan penggiringan opini pada kelompok terorisme Islam dan membuat para pegiat tersebut semakin gencar melakukan aksi "protes" di akun jejaring sosial masing-masing bahkan menjadi sisipan dari ucapan selamat 'idl Fitri 1434 H tahun ini.

Seperti pada postingan sebelumnya mengenai bahaya mass-media dalam menyebarkan berita kebencian. Ada sedikit sentimen bahwa memang telah terjadi konspirasi dan penggiringan opini ke arah tersebut. Sebagai orang awam yang berusaha mencerna, bahkan para penyelidik masih-pun melakukan proses investigasi dan olah TKP atas aksi pemboman tersebut dan sampai saat ini juga belum ada pihak yang secara independen menyatakan diri bertanggung jawab atas aksi tersebut. Alangkah menggelikan ketika publik secara beramai-ramai tergiring pada satu muara yang sama yang sepertinya mendiskreditkan Islam.

Yang lebih menggelikan lagi adalah postingan beberapa rekan yang dengan lantang menyatakan bahwa aksi terkait berhubungan dengan krisis Suriah antara pendukung Assad dan pasukan pemberontak bahkan desas-desus turut campurnya pasukan Taliban. Rekan tersebut yang memeluk sekte Islam-Syiah begitu mendiskreditkan sekte Islam-Wahabisme dan Salafisme dan dengan percaya diri menyalahkan kehadiran faham "Islam Transnasional" tersebut (termasuk organisasi FPI, PKS, HTI, Ikhwanul Muslimin dan sejenisnya) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aksi pemboman vihara Ekayana Grha.

Terlepas benar-tidaknya segala kesimpang-siuran mass media tersebut. Hal yang perlu dikutip adalah perayaan 'idl Fitri 1 Syawal 1434 H kali ini sepertinya semakin menjauhkan nilai moral dan spiritual yang harusnya didapat oleh setiap alumni Ramadhan 1434 H. Telah lupakah kita bahwa shaum Ramadhan pada dasarnya diwajibkan atas seluruh kaum muslimin untuk menjadikan mereka "yang beriman" untuk dapat meningkat menjadi "bertaqwa"?

Sungguh sedih ketika Liga Arab dan negara-negara OKI kemudian menyerukan gencatan senjata di Suriah sedikitnya selama perayaan 'idl Mubarak yang senyatanya "terberkati". Baik aksi bom vihara Ekayana, konflik Suriah, Mesir dan segala konflik di dunia muslim lainnya hanya akan mengantarkan sebuah stigma yang semakin melekat bahwa kaum muslimin begitu cinta akan pertumpahan darah dan adalah omong kosong jika dikatakan Islam hadir sebagai rahmatan lil 'alamin.

Saya pernah berkomentar pada postingan seorang rekan yang berpikiran serupa bahwa; kita (kaum muslimin) telah tanpa sengaja melakukan distorsi atas wajah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang menjadi wajah yang beringas dan kejam. Lebih jauh saya katakan dengan menukil sebuah kutipan yang saya baca; "aku melihat wajah Allah di atas tumpukan mayat manusia dan genangan darah yang membasahi bumi".

Setiap agama, apapun itu termasuk Islam bukanlah sebuah ajaran yang mendorong dan memotivasi ummatnya untuk saling tuding dan menumpahkan darah sesama manusia. Setiap agama punya slogan kemaslahatan, termasuk Islam sebagai agama Rahmat. Di perayaan 'idl Fitri ini, mari kita sesama muslim renungkan dengan melepas ego masing-masing sekte kita, apa kita telah tanpa sengaja mengambil wilayah Allah sebagai satu-satunya Dzat yang pantas Mengadili se-adil-adilnya dan Berkuasa menetapkan salah dan benar mutlak atas seluruh alam?

Selamat idl Fitri 1434 H. Semoga dengan takbir yang kita kumandangkan kepada-Nya, Allah ridha cahaya-Nya menerangi kita menjadi jiwa yang muthma'innah.

Senin, 05 Agustus 2013

Hati-hati pemberitaan media

Judul : Gelombang Kematian - Media Pengobar Genosida Rwanda
Penerjemah : Esti Sumarah & Kitu Ayana
Jumlah Halaman : 295 halaman
Penerbit : KATAKITA untuk RADIO 68H Jakarta
Tahun : 2004

Awal melihat cover-nya nan provokatif dengan judul yang tidak kalah memancing ketertarikan, menyisakan sebuah tanya; bagaimana sebuah media massa kemudian mampu melakukan genosida? Rwanda pada kurun waktu 1990 hingga 94 adalah daerah yang penuh dengan konflik internal dan perang saudara. Pembantaian etnis di negara miskin ini menyisakan sebuah sejarah kelam bagaimana unsur media massa ternyata mengambil suatu peran vital atas genosida yang merengut nyawa 333 orang dalam tiap jamnya. Pembantaian etnis ini terjadi antara mayoritas suku Hutu yang "dihasut" sedemikian rupa untuk membenci minoritas suku Tutsi.

Adalah Radio Television de Milles Collines (RTLM) yang memainkan peranan menyebarkan berita kebencian, mulai dari propaganda halus anti-Tutsi yang tidak spesifik hingga mulai dari tanggal 5 April 1994 disiarkannya pengorganisasian besar-besaran genosida melalui gelombang radio dan berkembang hingga 100 hari ke depan. Tidak kurang dari 800.000 nyawa manusia yang tewas akibat dari genosida ini yang tercatat sejak 6 April hingga 18 Juli 1994.

RTLM bukanlah radio pemerintah. Sebagai sebuah radio swasta, ada kesan bahwa radio ini sengaja dibentuk untuk mengobarkan histeria suku Hutu dan membangkitkan sentimen anti-Tutsi dengan selipan cerita bohong dalam siaran-siaran mereka. Banyak kesaksian yang dipaparkan oleh buku ini yang menyatakan bahwa para pelaku turut serta dalam tindakan pembantaian etnik karena terpengaruh seruan RTLM. Namun tidak seperti Radio Rwanda (radio resmi milik pemerintah Rwanda), yang walaupun menyampaikan pesan yang sama, RTLM menyampaikan dengan gaya presentase ala anak muda yang ceria, santai, rileks bahkan kadang slengekan.

Sebuah semiotika sengaja dibangun yang secara persuasif namun efektif mengena para pendengarnya untuk secara terorganisir melakukan genosida berdasar profokasi gelombang radio ini. RTLM bukanlah contoh pertama dan pastinya bukan pula yang terakhir. Kasus yang paling terkenal adalah ketika seorang penyiar dan propagandis NAZI dinyatakan bersalah dalam pengadilan Nuremberg terkait propaganda kebencian melalui media massa. Contoh lainnya tapi sulit untuk dibuktikan adalah "radio kebencian" di Zimbabwe. Zimbabwe Broadcasting Corporation disinyalir memiliki impact langsung atas pengorganisasian milisi pro-pemerintah.

Di Indonesia sendiri, era PKI adalah salah satu yang secara terang-terangan menyebarkan propaganda halus, baik dari sisi PKI sendiri maupun para pihak lainnya. Keterangan dari beberapa saksi yang masih hidup dan bermukim di Ibukota Jakarta pada waktu itu, pemberitaan menjadi simpang siur dan masyarakat dikeruhkan (baca-dibingungkan) dengan riuhnya pemberitaan hingga sulit untuk mencerna pemberitaan mana yang benar bahkan hingga lewat 1 Oktober. Konflik ambon juga disinyalir dikacaukan oleh pemberitaan media yang seperti sengaja memunculkan kekerasan SARA antar suku dan ummat beragama.

Apapun itu, media massa utamanya memainkan peranan penting dalam melakukan kooptasi informasi dan pada bagian tertentu sering juga melakukan penyitiran informasi agar terdengar dan terlihat lebih daripada kenyataan sebenarnya.

Minggu, 04 Agustus 2013

Renungan diri 11

Orang yang selalu tertawa riang lebih membutuhkan bantuan orang lain untuk sekedar tetap tersenyum

(Muhammad R. H. Pitopang)

Kamis, 01 Agustus 2013

Rembulan di atas padang

Ku ketuk rembulan yang membubung di atas padang
Layu lirik hati tiada akan merona asa
Sungguh...pada perih semua terlena lalu
hingga putik tiada jumawa!

Engkau
debur renta yang bersahutan masih

Apa engkau akan tertatih menjemput lembaran kisah ini?

di hasta nan memberi jarak
pada depa nan menyeruak antara

Apa engkau akan berkata pada sendu matari kita?

Ku ketuk rembulan nan bumbung di atas padang
semilir jawab
telah hanyut di bawa senja yang mengerang!

August, 2 2013
01.52
© MUHAMMAD R.H. PITOPANG

Renungan diri 10

Berasumsilah kita akan gagal ketika kita sedang berusaha, dengan begitu kita akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak akan gagal. Karena ketika kita berasumsi bahwa kita akan berhasil, kita tidak akan pernah siap menerima kegagalan dari apa yang telah kita upayakan jikapun usaha kita ternyata telah gagal.

© Muhammad R. H. Pitopang

Renungan diri 9

Ketika ditinggal kekasihmu
Jangan pernah berpikir dirimu dicampakkan seperti sampah, tapi berpikirlah bahwa dia telah menyia-nyiakan segepok emas

Karena ketika kita berpikir kita dibuang layaknya sampah, kita akan bersikap rendah seperti sampah sesungguhnya!

© Muhammad R. H. Pitopang

Renungan diri 8

Sesulit apapun masalah yang dihadapi,seorang wanita terhormat akan menutup rapat bibirnya dengan sabar namun terus berpikir dengan kepala dingin mencari jalan keluar; bukan mencari-cari kesalahan dan kambing hitam

Seorang wanita terhormat adalah perempuan dengan akal taktis seorang pria namun memiliki keanggunan serta kontrol emosi seorang ratu

(Muhammad R. H. Pitopang)

Selasa, 30 Juli 2013

Renungan diri 7

Hanya mereka yang berpikiran kerdil yang dengan kejamnya memberikan sekat suatu ilmu dengan ilmu yang lain hanya karena ilmu tersebut dipikirkan dan lahir dari kelompok atau golongan di luar dirinya

(Muhammad R. H. Pitopang)

Renungan diri 6

Saat berada pada persimpangan hidup,ada gunanya untuk tidak buru-buru melangkah pada salah satu arah

Duduk-diamlah dahulu sebelum memutuskan,karena hal yang tidak menyenangkan dlm sebuah keputusan hidup adalah menyangkal kita pernah mengambil keputusan tersebut secara sadar..

(Muhammad R. H. Pitopang)

Senin, 29 Juli 2013

Renungan diri 5

Setiap orang yang datang dan pergi dalam hidupmu akan membentuk secara evolutif kepribadianmu menjadi lebih dewasa

Berpikir dan bertindak inklusiflah,karena akan selalu ada hal baik untuk orang-orang yang memikirkan hal-hal baik

(Muhammad R. H. Pitopang)

Minggu, 28 Juli 2013

Renungan diri 4

Wanita yg mencintaimu akan memahami arti pandanganmu,maksud amarahmu dan selalu mampu menjadi peneduh hatimu

(Muhammad R. H. Pitopang)

Sabtu, 27 Juli 2013

Renungan diri 3

Hidup bagai keberadaan setetes embun pada permukaan dedaun; sebelumnya tiada untuk kemudian menguap tanpa sisa apapun di semesta

(Muhammad R.H. Pitopang)

Harap Hamba

Harap hamba, duhai Penggenggam Semesta
Pembimbing nan meluruskan arah cela
duli hamba duduk menungkan diri
cercah tanya mengganggu selalu

Pada mana hirup hamba mengenang
menghitung bilang tiada tersebut
mengeja kasih tiada terujar

Harap hamba,duhai Penggenggam hari

asmara apakah hendak dibawa pada suci altar Engkau?
dalam kumuh hanya mampu tersedu
dalam riuh hanya ungkap gerutu
dalam lakon hidup nan khilaf dan berdebu

Iri nian hamba pada kesempurnaan
dapatkah ia-nya tergenggam
barang sedetik berlalu
hening igauan melulu?

Harap hamba, duhai Yang nama-Mu menghias seluruh hamba

di ujung mana Engkau menuntun langkahku kelak?

atau hanya jejak yang musykil untuk tergelak!

Renungan diri 2

Saat engkau bertanya apa itu cinta,maka tutuplah seluruh indra aktif dalam dirimu.
Dengan hanya menggunakan otakmu,kenalilah kehadiran sosok yang engkau cintai,bahkan walau ia sebenarnya tiada hadir di dekatmu.

Renungan diri 1

Maaf terbaik adalah maaf yang diberikan berikut sebuah pelajaran kesalahan pada sang pembuat salah.
Bukan untuk menghukum,tapi untuk mengajarkan dirinya agar mengenal kesalahannya

(Muhammad R.H. Pitopang)

Jumat, 26 Juli 2013

Dedaun

Tuntun hatiku
berliku dedaun

Bawa ia-nya mengeja asmara

Lengkapi dengan denting yg ku dengar kala malam mendekap

Gurauan cinta yang mengecup impian hati mengarung pergi

Tuntun hatiku
Gelayutkan asa

Apa hendak ku beri pada jemari menentang rasa?

Sungguh terik cahaya masa yg menebar tawa
tentang dikau nan resah ku tunggu

Dedaun...
Apa hendak kerontang kita menanti?

Kamis, 25 Juli 2013

Relung Tanya

Di bibir hujan nan menyunggingkan senyum

pada jendela basah yang menerawangkan gelap malam
pada rasa dingin yang menyelimuti detik beringsut

saat rembulan pingsan ditelan rombongan awan yang menyemak

Apatah ada arti hamba buatmu wahai puan yang menghilirkan seluruh pandang?

Senin, 22 Juli 2013

Rembulan Berkabut Kusam

Embun di kaca, embun di hatiku
dan rembulan sabit yang kutatap beku
di gerimisnya malam
kusam dan nyembul di balik kaca bisku
yang berkabut tertutup
embun padu

Medan-Bukittinggi
050703